Caption : Murid MTsN 2 Bantul Belajar Muhasabah Diri dengan Wukuf di Arafah (dok: Eni).
Boyolali, 2 Oktober 2026 --- Setelah mempraktikkan tawaf, sa'i, dan tahallul, rangkaian pembelajaran manasik haji murid kelas IX MTsN 2 Bantul di Wisata Edukasi Religi (WER) Qolbu, Boyolali, berlanjut pada wukuf di Arafah. Tahapan ini menjadi kesempatan bagi murid untuk mengenal lebih dekat salah satu bagian terpenting dalam pelaksanaan ibadah haji.
Dalam praktiknya, wukuf dilaksanakan dengan berada di Padang Arafah pada waktu yang telah ditentukan, yaitu pada 9 Dzulhijjah, sejak tergelincirnya matahari hingga terbit fajar pada 10 Dzulhijjah. Wukuf bukan sekadar berada di suatu tempat, tetapi menjadi momentum untuk memperbanyak doa, zikir, istigfar, dan memohon ampun kepada Allah Swt.
Di kawasan miniatur Arafah, murid MTsN 2 Bantul diajak memahami bahwa wukuf merupakan puncak dari rangkaian ibadah haji. Suasana ini menjadi pembelajaran tentang pentingnya berhenti sejenak dari kesibukan dunia, melakukan introspeksi, mengakui kekurangan diri, serta mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Salah satu mutowwif manasik, Eni Munawaroh, menjelaskan bahwa wukuf memiliki makna yang sangat dalam bagi setiap jamaah haji. Menurutnya, Arafah menjadi tempat untuk merenung dan memohon ampun atas kesalahan yang telah dilakukan.
"Wukuf mengajarkan kita untuk berhenti sejenak, bermuhasabah, memperbanyak doa, dan memohon ampun kepada Allah. Anak-anak perlu memahami bahwa ibadah haji bukan hanya tentang mengikuti gerakan, tetapi juga tentang perubahan sikap dan hati," ucap Eni.
Melalui praktik wukuf, murid diharapkan mampu menangkap pesan bahwa ibadah haji mengandung banyak nilai kehidupan. Setelah belajar ketundukan melalui ihram, perjuangan melalui sa'i, dan melepaskan kesombongan melalui tahallul, wukuf mengajak mereka untuk melakukan introspeksi dan mendekatkan diri kepada Allah. Dengan begitu, setiap tahapan manasik tidak berhenti sebagai praktik ritual, tetapi menjadi pembelajaran karakter yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.