Caption : Lempar Jumroh di Jamarot diikuti oleh Peserta Manasik Haji MTsN 2 Bantul (dok: Eni).
Boyolali, 2 Oktober 2026 --- Tujuh kerikil berada di tangan setiap murid ketika rombongan kelas IX MTsN 2 Bantul tiba di kawasan Jamarat, Wisata Edukasi Religi (WER) Qolbu, Boyolali. Setelah menyusuri Terowongan Mina dari Muzdalifah, mereka bersiap mempraktikkan lontar Jamrah Aqabah. Didampingi seluruh Tim Manasik, satu per satu kerikil dilemparkan mengikuti arahan, menghadirkan suasana pembelajaran Fikih yang terasa nyata di hadapan replika tempat lontar jumrah.
Praktik kemudian berlanjut secara berurutan. Setelah menyelesaikan Jamrah Aqabah dengan tujuh kerikil, murid melanjutkan lontar Jamrah Ula, Wustha, dan Aqabah, masing-masing menggunakan 21 kerikil. Dengan demikian, setiap peserta menggunakan 70 kerikil untuk menyelesaikan seluruh rangkaian praktik lontar jumrah. Setiap lemparan dilakukan satu per satu dengan mengikuti tata cara dan arahan pendamping.
Seluruh peserta mengikuti kegiatan dengan tertib. Tim Manasik mendampingi dan mengarahkan setiap tahapan agar murid memahami urutan pelaksanaan dengan benar. Kerikil yang sebelumnya dikumpulkan saat berada di Muzdalifah kini digunakan dalam praktik di Jamarat, sehingga perjalanan dari satu tempat ke tempat berikutnya terasa sebagai satu rangkaian pembelajaran yang utuh.
Kepala MTsN 2 Bantul, Isti Bandini, mengungkapkan bahwa praktik tersebut memberikan pengalaman yang berbeda bagi murid karena mereka dapat memahami tahapan ibadah haji melalui pengalaman langsung. "Saya senang melihat anak-anak dapat mengikuti praktik dengan tertib dan antusias. Mereka bukan hanya belajar cara melakukan lontar jumrah, tetapi juga belajar mengikuti urutan, mendengarkan arahan, dan menjaga ketertiban bersama rombongan," ujar Isti.
Tiba di Jamarat dan mempraktikkan lontar jumrah menjadi salah satu pengalaman penting dalam perjalanan manasik kelas IX MTsN 2 Bantul. Setelah melalui Arafah, Muzdalifah, dan Mina, murid semakin memahami keterkaitan setiap tahapan dalam rangkaian ibadah haji. Pembelajaran Fikih pun hadir bukan sekadar melalui teori, tetapi melalui pengalaman langsung yang membuat setiap tahapan lebih mudah dipahami dan diingat.
(Een)