Caption : Doc. 5 GTK MTSN 3 BANTUL Ikuti Simphoni Membatik
BANTUL --- Belajar budaya tidak selalu harus berlangsung di ruang kelas. Nilai-nilai kearifan lokal justru semakin bermakna ketika dipelajari secara langsung, dipraktikkan, dan dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari. Semangat inilah yang dibawa GTK MTsN 3 Bantul saat turut memeriahkan 1001 Simfoni Membatik di kawasan Malioboro, Jumat (03/10).
Kegiatan membatik menjadi ruang belajar budaya sekaligus momentum bagi GTK MTsN 3 Bantul untuk mengenal lebih dekat kekayaan tradisi Yogyakarta. Dengan mengikuti proses membatik secara langsung, para GTK tidak sekadar menghasilkan karya, tetapi juga belajar memahami filosofi, ketekunan, kesabaran, kreativitas, serta nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam budaya membatik.
Kegiatan tersebut selaras dengan semangat Madrasah Hijau Giriloyo yang terus berupaya menghadirkan pendidikan berbasis konteks dan kearifan lokal. Local wisdom tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi diupayakan menjadi pengalaman yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan warga madrasah.
Kepala MTsN 3 Bantul, Surini, M.Pd, mengapresiasi keterlibatan GTK dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, membatik bukan sekadar aktivitas seni, melainkan bagian dari proses pendidikan karakter yang mengajarkan nilai ketelatenan, kedisiplinan, kreativitas, dan kecintaan terhadap budaya bangsa. "Kita tidak hanya belajar bagaimana membatik, tetapi belajar nilai yang ada di balik proses membatik. Ada kesabaran, ketelitian, ketekunan, kreativitas, dan kecintaan terhadap budaya. Nilai-nilai inilah yang perlu kita bawa kembali ke madrasah dan diteladankan kepada murid," tutur Kamad Surini.
Beliau menambahkan bahwa madrasah memiliki peran strategis dalam menjaga agar budaya lokal tetap hidup di tengah perkembangan zaman. Menurutnya, generasi muda perlu diberi pengalaman langsung agar tidak hanya mengenal budaya melalui buku atau teori. "Local wisdom harus kita aplikasikan. Jangan sampai anak-anak hanya tahu bahwa batik adalah warisan budaya Indonesia, tetapi tidak pernah merasakan prosesnya. Melalui kegiatan seperti ini, kita belajar bahwa budaya adalah identitas yang harus dirawat dan diwariskan," imbuhnya.
Keikutsertaan GTK MTsN 3 Bantul juga menjadi bentuk nyata penguatan pendidikan berbasis budaya. Para GTK diharapkan mampu membawa pengalaman tersebut ke lingkungan madrasah melalui pembelajaran, keteladanan, maupun berbagai kegiatan kreatif yang dekat dengan kehidupan murid.
Salah satu GTK yang turut berkontribusi adalah Septiana Nurul Imamah, pustakawan sekaligus juru kamera MTsN 3 Bantul. Selain mendokumentasikan berbagai aktivitas, Septiana juga turut terlibat dalam proses membatik. Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa setiap warga madrasah dapat mengambil peran dalam menjaga dan menghidupkan budaya lokal.
Bagi MTsN 3 Bantul, kegiatan 1001 Simfoni Membatik bukan sekadar agenda budaya. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi bahwa pendidikan dapat hadir melalui pengalaman nyata, interaksi dengan masyarakat, dan apresiasi terhadap kearifan lokal.
Semangat tersebut sejalan dengan upaya madrasah untuk membentuk generasi yang tidak tercerabut dari akar budayanya. Mengenal budaya, mengalami prosesnya, memahami nilai filosofinya, kemudian mengaplikasikannya dalam kehidupan menjadi bagian penting dalam membangun karakter murid yang unggul sekaligus berbudaya.
Melalui keterlibatan GTK dalam kegiatan budaya, MTsN 3 Bantul terus meneguhkan komitmennya untuk menjadikan local wisdom sebagai sumber belajar, sumber inspirasi, dan bagian dari identitas madrasah. (MuK)