Caption : Mengajar Bukan Sekadar Materi, Guru MTsN 6 Bantul Bangun Kedekatan melalui Pendekatan Personal
Bantul (MTsN 6 Bantul) — Mengajar tidak selalu tentang menyampaikan materi pelajaran dan menyelesaikan target pembelajaran. Di sela-sela proses belajar, terdapat ruang yang dapat dimanfaatkan guru untuk mengenal siswa lebih dekat, mendengarkan cerita mereka, sekaligus memberikan pembinaan sesuai kebutuhan masing-masing.
Hal tersebut dilakukan guru Matematika MTsN 6 Bantul, Novrita, pada Rabu, 7 Oktober 2026. Di tengah aktivitas pembelajaran Matematika, Novrita menyempatkan diri membangun interaksi personal dengan siswa. Percakapan dilakukan secara sederhana dan tidak selalu berkaitan dengan materi pelajaran.
Menurut Novrita, interaksi secara personal menjadi bagian penting dalam proses pendidikan. Setiap siswa memiliki karakter, persoalan, dan kebutuhan yang berbeda sehingga tidak semuanya dapat diselesaikan melalui pendekatan pembelajaran di depan kelas.
“Guru tidak cukup hanya mengetahui apakah siswa sudah memahami materi atau belum. Kita juga perlu mengenal mereka sebagai pribadi. Kadang ada hal yang tidak terlihat ketika pembelajaran berlangsung di kelas dan baru muncul ketika kita mengajak mereka berbicara secara personal,” ujar Novrita.
Pendekatan tersebut juga dimanfaatkan untuk memberikan pembinaan khusus kepada siswi berkaitan dengan persoalan kewanitaan. Pembicaraan dilakukan secara proporsional, edukatif, dan disesuaikan dengan usia siswa. Selain persoalan kewanitaan, guru juga memberikan penguatan mengenai kebersihan diri, menjaga diri, pergaulan, tanggung jawab, kedisiplinan, serta berbagai hal yang perlu dipahami siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi Novrita, pembinaan semacam itu tidak harus selalu dilakukan dalam forum khusus. Justru kesempatan sederhana di sela pembelajaran dapat menjadi pintu masuk untuk membangun komunikasi yang lebih terbuka antara guru dan siswa.
“Kadang lima atau sepuluh menit berbicara dari hati ke hati bisa lebih berarti daripada kita hanya memberikan nasihat panjang di depan kelas. Anak perlu merasa bahwa gurunya mau mendengar dan memahami mereka,” tambahnya.
Interaksi personal juga menjadi salah satu cara untuk menciptakan suasana belajar yang lebih nyaman. Ketika siswa merasa dikenal dan dihargai, mereka diharapkan lebih terbuka dalam menyampaikan kesulitan, baik berkaitan dengan pembelajaran maupun persoalan pribadi yang masih berada dalam ruang pembinaan guru.
Sebagai guru Matematika, Novrita menyadari bahwa pelajaran yang diampunya membutuhkan konsentrasi dan ketekunan. Namun, pembelajaran tidak berhenti pada kemampuan siswa menyelesaikan soal. Di balik angka dan rumus, terdapat pribadi-pribadi yang sedang tumbuh dan membutuhkan pendampingan.
“Matematika tetap penting, tetapi pendidikan anak jauh lebih luas daripada materi Matematika. Kita ingin mereka tumbuh menjadi anak yang memiliki pengetahuan sekaligus mampu menjaga diri, menghargai orang lain, dan bertanggung jawab,” ungkapnya.
Pendekatan personal tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan pendidikan yang lebih utuh di madrasah. Guru tidak hanya hadir sebagai penyampai pengetahuan, tetapi juga sebagai pendamping yang membantu siswa melewati berbagai fase perkembangan mereka. Dengan demikian, waktu pembelajaran tidak hanya menjadi ruang untuk mengejar capaian akademik. Di sela penjelasan materi, tanya jawab, dan latihan soal, guru dapat menghadirkan percakapan sederhana yang mungkin justru menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang siswa.
Mengajar bukan sekadar menyampaikan apa yang harus diketahui siswa, tetapi juga hadir untuk memahami siapa mereka dan membantu mereka menjadi pribadi yang lebih baik. (nov)