Caption : foto kegiatan riset
Bantul (MTsN 6 Bantul) – Lingkungan madrasah tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya proses pembelajaran, tetapi juga dapat menjadi sumber inspirasi untuk melahirkan berbagai gagasan penelitian. Hal inilah yang terus didorong oleh pembimbing riset MTsN 6 Bantul, Novrita, kepada para siswa agar mampu melihat berbagai potensi yang ada di sekitar mereka sebagai objek penelitian.
Menurut Novrita, ide penelitian tidak selalu harus dicari jauh dari lingkungan madrasah. Berbagai tanaman, lingkungan, kebiasaan, maupun permasalahan yang ditemui sehari-hari dapat menjadi titik awal lahirnya sebuah penelitian.
“Anak-anak kami ajak untuk lebih peka melihat lingkungan sekitar. Apa yang tumbuh di halaman madrasah, apa yang selama ini dianggap biasa, bisa saja menyimpan potensi yang menarik untuk diteliti. Dari situlah mereka belajar menemukan masalah, mencari informasi, melakukan pengujian, hingga menghasilkan sebuah inovasi,” ujar Novrita.
Salah satu potensi lokal yang menarik perhatian siswa adalah pohon kepel yang tumbuh subur di halaman depan MTsN 6 Bantul. Selama ini, keberadaan pohon tersebut menjadi bagian dari penghijauan lingkungan madrasah. Namun, melalui pendampingan riset, siswa melihat bahwa buah kepel yang dihasilkan dapat dikembangkan menjadi bahan penelitian sekaligus produk inovatif.
Dari pengamatan sederhana terhadap lingkungan madrasah tersebut, lahirlah gagasan untuk mengembangkan permen jelly berbahan dasar buah kepel sebagai camilan fungsional.
Buah kepel merupakan salah satu tanaman lokal yang keberadaannya belum banyak dimanfaatkan secara optimal. Potensi kandungan antioksidan pada buah kepel menjadi salah satu alasan siswa tertarik mengembangkannya. Di tengah kebutuhan masyarakat terhadap pangan yang tidak hanya mengenyangkan tetapi juga memiliki nilai tambah bagi kesehatan, pemanfaatan buah lokal menjadi produk pangan fungsional dapat menjadi salah satu alternatif inovasi.
Dalam penelitian tersebut, buah kepel diolah menjadi sari buah yang kemudian dikembangkan menjadi permen jelly. Pemilihan bentuk permen jelly dilakukan untuk memberikan daya tarik tersendiri melalui rasa, tekstur, dan bentuk, sehingga potensi buah lokal yang sebelumnya kurang dikenal dapat lebih mudah diterima, khususnya oleh anak-anak dan masyarakat luas.
Inovasi tersebut menunjukkan bahwa penelitian siswa tidak harus berangkat dari sesuatu yang rumit. Penelitian dapat dimulai dari pertanyaan sederhana: Apa yang ada di sekitar kita? Apa manfaatnya? Mengapa belum banyak dimanfaatkan? Dan bagaimana kita dapat mengembangkannya menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat?. Melalui proses tersebut, siswa tidak hanya belajar tentang penelitian, tetapi juga belajar mengenali kekayaan hayati yang ada di lingkungan mereka. Pohon kepel yang sebelumnya mungkin hanya dipandang sebagai tanaman penghias halaman, kini menjadi sumber inspirasi bagi siswa untuk menggali potensi tanaman lokal Indonesia.
Novrita menambahkan bahwa proses pembimbingan riset juga diarahkan untuk membangun cara berpikir ilmiah sekaligus kepedulian siswa terhadap lingkungan.
“Ketika anak-anak menemukan sendiri ide penelitian dari lingkungan yang setiap hari mereka lihat, biasanya muncul rasa memiliki terhadap penelitian itu. Mereka tidak hanya mengejar hasil, tetapi juga belajar memahami mengapa tanaman tersebut penting dan bagaimana potensi yang ada dapat memberikan manfaat,” jelasnya.
Kepala MTsN 6 Bantul, Sugiyono, S.Pd., mengapresiasi langkah pembimbing riset dan siswa yang mampu menjadikan lingkungan madrasah sebagai sumber inspirasi penelitian. Menurutnya, keberadaan berbagai tanaman di lingkungan madrasah seharusnya tidak hanya dilihat dari sisi keindahan dan penghijauan, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar yang nyata.
“Lingkungan madrasah adalah laboratorium yang sangat dekat dengan siswa. Pohon kepel yang tumbuh subur di halaman depan madrasah menjadi contoh bahwa sesuatu yang ada di sekitar kita dapat menjadi sumber inspirasi untuk menghasilkan karya dan inovasi,” ungkap Sugiyono.
Ia berharap kegiatan riset di MTsN 6 Bantul terus mendorong siswa untuk memiliki rasa ingin tahu, berani mencoba, serta mampu melihat potensi yang ada di lingkungan dengan sudut pandang yang berbeda.
“Harapan kami, anak-anak tidak hanya menjadi pengguna informasi, tetapi juga mampu menjadi pencipta gagasan. Dari lingkungan madrasah mereka belajar mengamati, bertanya, meneliti, dan menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” tambahnya.
Pengembangan permen jelly buah kepel menjadi salah satu bukti bahwa potensi lingkungan madrasah dapat menjadi pintu masuk bagi lahirnya inovasi siswa. Dari sebuah pohon yang tumbuh di halaman depan madrasah, muncul sebuah gagasan penelitian yang menggabungkan potensi tanaman lokal, pangan fungsional, kreativitas, dan pembelajaran berbasis lingkungan.
Lebih dari sekadar menghasilkan produk, penelitian tersebut juga dapat menjadi media literasi bagi masyarakat tentang kekayaan tanaman lokal Indonesia. Siswa belajar bahwa tanaman yang tumbuh di sekitar mereka memiliki cerita, manfaat, dan potensi yang layak untuk digali melalui pendekatan ilmiah.
Dengan demikian, halaman MTsN 6 Bantul bukan hanya menjadi ruang terbuka hijau, tetapi juga menjadi ruang belajar yang hidup—tempat siswa menemukan ide, mengembangkan rasa ingin tahu, dan mengubah sesuatu yang sederhana menjadi sebuah inovasi penelitian.(nov)