Caption : Workshop MTsN 6 Bantul: Pak Wawan Ingatkan Pentingnya Metode Konvensional di Era Digital
Bantul (MTsN 6 Bantul) — Perkembangan teknologi digital memberikan banyak kemudahan dalam dunia pendidikan. Namun, kemajuan tersebut tidak berarti membuat metode pembelajaran konvensional harus ditinggalkan. Peserta didik tetap membutuhkan ruang untuk membaca, menulis, berdiskusi, bertanya, dan berpikir secara mandiri.
Hal tersebut menjadi salah satu pesan penting Setiawan Pujiyono, dosen Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), dalam workshop “Metode Gembira dan Asesmen dalam Pembelajaran” yang digelar di Ruang Laboratorium Komputer MTs Negeri 6 Bantul, Jumat (2/10/2026).
Setiawan Pujiyono, yang akrab disapa Pak Wawan, selama ini kerap membersamai MGMP Bahasa Indonesia se-Kabupaten Bantul dalam berbagai kegiatan pengembangan kompetensi guru. Kehadirannya kali ini kembali memberikan perspektif baru bagi para guru dalam menyikapi perkembangan pembelajaran di era digital.
Dalam workshop, Pak Wawan mengajak guru untuk melihat teknologi secara proporsional. Penggunaan berbagai platform digital memang dapat membuat pembelajaran lebih menarik, efektif, dan variatif. Namun, teknologi hendaknya tetap ditempatkan sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti proses berpikir peserta didik.
Metode konvensional seperti membaca buku, menulis, berdiskusi secara langsung, menyampaikan pendapat, mengerjakan tugas secara mandiri, hingga menemukan solusi melalui proses berpikir tetap memiliki peran penting.
Proses tersebut justru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif. Mereka tidak hanya terbiasa menemukan jawaban dengan cepat, tetapi juga memahami proses bagaimana sebuah jawaban diperoleh.
Kepala MTs Negeri 6 Bantul, Sugiyono, S.Pd., menyambut baik gagasan yang disampaikan Pak Wawan. Menurutnya, madrasah perlu mengikuti perkembangan teknologi tanpa kehilangan esensi pendidikan.
“Teknologi harus kita manfaatkan untuk mendukung pembelajaran. Namun, jangan sampai kemudahan teknologi membuat anak kehilangan kemampuan berpikir, berproses, dan berusaha. Guru perlu menentukan kapan teknologi digunakan dan kapan peserta didik perlu belajar secara mandiri dengan metode konvensional.”
Senada dengan hal tersebut, Heisma Arya Demokrawati, guru Bahasa Indonesia MTs Negeri 6 Bantul sekaligus peserta workshop, mengatakan bahwa materi yang disampaikan menjadi pengingat penting bagi guru.
“Bersama Pak Wawan, kami diingatkan bahwa pembelajaran modern tidak selalu berarti pembelajaran yang sepenuhnya digital. Ada saatnya anak perlu kembali membaca, menulis, berdiskusi, berbicara, dan berpikir dengan kemampuannya sendiri. Dari proses sederhana itulah kemampuan kritis dan kreatif dapat tumbuh.”
Menurut Heisma, teknologi dan metode konvensional bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat dipadukan sesuai tujuan pembelajaran dan karakteristik peserta didik. “Teknologi tetap penting dan sangat membantu guru. Tetapi jangan sampai anak hanya pandai mencari jawaban, tanpa memahami bagaimana jawaban itu diperoleh. Guru harus tetap memberikan ruang agar teknologi membantu anak berpikir, bukan menggantikan pikirannya.”
Workshop tersebut menjadi ruang refleksi bagi guru untuk kembali melihat hakikat pembelajaran. Di tengah kemudahan mendapatkan informasi, peserta didik tetap perlu dilatih untuk bertanya, membaca secara kritis, menyusun gagasan, berargumentasi, memecahkan masalah, dan menghasilkan karya.
Pembelajaran digital dan konvensional tidak harus saling menggantikan. Keduanya dapat berjalan berdampingan dan saling melengkapi.
Menjadi guru di era digital bukan berarti seluruh pembelajaran harus dilakukan menggunakan teknologi. Justru, guru dituntut semakin bijak dalam menentukan kapan teknologi digunakan dan kapan peserta didik perlu diberi ruang untuk berpikir tanpa bergantung pada teknologi.
Sebab, pendidikan bukan sekadar tentang seberapa cepat peserta didik menemukan jawaban, tetapi tentang bagaimana mereka mampu berpikir kritis, kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab dalam menemukan jawaban tersebut. (had).