Caption : Ekstra Riset Tetap Diminati, Siswa MTsN 6 Bantul Gali Ide dari Lingkungan Sekitar
Bantul (MTsN 6 Bantul) — Minat siswa terhadap dunia penelitian di MTsN 6 Bantul masih menunjukkan antusiasme yang cukup tinggi. Hal ini terlihat dari keikutsertaan sekitar 25 siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler Riset yang dilaksanakan secara rutin setiap hari Rabu pukul 15.30 WIB.
Meskipun MTsN 6 Bantul telah memiliki kelas khusus riset sebagai salah satu wadah pengembangan kemampuan siswa di bidang penelitian, madrasah tetap memberikan ruang yang lebih luas melalui ekstrakurikuler Riset. Kegiatan ini diperuntukkan bagi siswa yang memiliki ketertarikan dan bakat di bidang penelitian serta ingin mengembangkan gagasan mereka secara lebih mendalam.
Dalam kegiatan ekstrakurikuler tersebut, siswa mengikuti tahapan pembelajaran secara bertahap. Kegiatan diawali dengan pengenalan materi dasar penelitian, dilanjutkan dengan menggali dan menemukan ide penelitian, menentukan kelompok sesuai minat, hingga menumbuhkan keberanian untuk mengikuti berbagai ajang perlombaan penelitian.
Menariknya, ide penelitian yang dikembangkan dalam kegiatan ini berasal dari siswa sendiri. Pembimbing tidak memberikan ide penelitian secara langsung, tetapi berperan mengarahkan siswa agar mampu melihat berbagai persoalan di lingkungan sekitar sebagai peluang untuk diteliti.
Lingkungan madrasah menjadi salah satu sumber inspirasi utama. Siswa diajak mengamati berbagai persoalan yang mereka temui dalam kehidupan sehari-hari, kemudian mengubahnya menjadi pertanyaan penelitian. Dengan demikian, penelitian tidak hanya dipahami sebagai kegiatan akademik, tetapi juga sebagai proses melatih kepekaan, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Koordinator Riset MTsN 6 Bantul, Novrita, mengatakan bahwa salah satu daya tarik kegiatan ekstrakurikuler Riset adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan ide mereka sendiri.
“Kami tidak ingin siswa hanya menerima ide penelitian dari pembimbing. Justru kami berusaha menggali apa yang mereka lihat, mereka rasakan, dan mereka pikirkan di lingkungan sekitar. Dari situlah ide penelitian muncul. Pembimbing lebih banyak mengarahkan metode, langkah penelitian, serta membantu siswa dalam penyusunan laporan,” ungkap Novrita.
Menurutnya, proses tersebut membuat siswa merasa memiliki penelitian yang mereka kerjakan. Ketika ide berasal dari mereka sendiri, rasa ingin tahu dan tanggung jawab untuk menyelesaikan penelitian juga tumbuh lebih kuat.
“Yang kami bangun bukan hanya kemampuan membuat laporan penelitian, tetapi juga cara berpikir ilmiah. Siswa belajar menemukan masalah, mencari solusi, bekerja sama dalam kelompok, melakukan pengamatan, mengolah data, dan menyampaikan hasilnya. Ketika mereka kemudian tertarik mengikuti lomba, itu menjadi bagian dari proses untuk menguji dan mengembangkan kemampuan mereka,” tambahnya.
Antusiasme siswa terlihat ketika mereka mulai berdiskusi mengenai berbagai persoalan yang dapat dijadikan objek penelitian. Mereka saling menyampaikan gagasan, mempertimbangkan kelayakan ide, menentukan kelompok, kemudian mulai menyusun langkah-langkah penelitian dengan pendampingan pembimbing. (nov)