Caption : Setiawan Pujiyono Membersamai Guru Pegawai MTsN 6 Bantul
Bantul (MTsN 6 Bantul) --- Pembelajaran yang menggembirakan bukan sekadar membuat peserta didik tertawa di dalam kelas. Di balik suasana belajar yang menyenangkan, terdapat strategi, metode, dan asesmen yang dirancang agar setiap proses belajar benar-benar bermakna. Semangat inilah yang diangkat dalam workshop "Metode Gembira dan Asesmen dalam Pembelajaran" yang menghadirkan Setiawan Pujiyono, dosen Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) sebagai narasumber di MTs Negeri 6 Bantul, Jumat (2/10/2026).
Bagi guru Bahasa Indonesia di Kabupaten Bantul, sosok Setiawan Pujiyono bukanlah nama yang asing. Ia selama ini kerap membersamai MGMP Bahasa Indonesia se-Kabupaten Bantul dalam berbagai kegiatan pengembangan kompetensi guru. Kehadirannya kali ini di MTs Negeri 6 Bantul kembali memberikan ruang bagi guru untuk belajar, berdiskusi, berefleksi, sekaligus menemukan gagasan baru untuk diterapkan dalam pembelajaran.
Mengusung tema metode gembira dan asesmen, workshop mengajak guru melihat pembelajaran dari sudut pandang yang lebih utuh. Kegembiraan bukan hanya tentang permainan atau aktivitas yang menarik, tetapi bagaimana guru mampu menciptakan pengalaman belajar yang membuat peserta didik aktif, terlibat, merasa dihargai, dan memahami tujuan belajarnya.
Sementara itu, asesmen diposisikan bukan semata-mata sebagai kegiatan untuk menghasilkan nilai. Asesmen menjadi bagian dari proses pembelajaran yang membantu guru mengenali perkembangan, kebutuhan, dan capaian peserta didik sehingga pembelajaran berikutnya dapat dirancang secara lebih tepat.
Kepala MTs Negeri 6 Bantul, Sugiyono, S.Pd., menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, peningkatan kompetensi guru harus berjalan beriringan dengan perubahan kebutuhan peserta didik.
"Guru tidak boleh berhenti belajar. Pembelajaran yang menggembirakan perlu dirancang dengan baik agar bukan sekadar menyenangkan, tetapi juga memberikan makna. Demikian pula asesmen harus mampu menjadi alat bagi guru untuk memahami perkembangan peserta didik dan memperbaiki proses pembelajaran."
Bagi Heisma Arya Demokrawati, S.Pd., guru Bahasa Indonesia MTs Negeri 6 Bantul sekaligus peserta workshop, kegiatan tersebut memberikan penguatan terhadap praktik pembelajaran yang selama ini dilakukan.
"Workshop ini mengingatkan kami bahwa kegembiraan dalam pembelajaran bukan sekadar membuat suasana kelas menjadi ramai, tetapi bagaimana peserta didik benar-benar menikmati proses belajar dan tetap mencapai tujuan pembelajaran. Asesmen juga menjadi bagian penting untuk melihat perjalanan belajar mereka, bukan hanya hasil akhirnya."
Ia menambahkan bahwa pengalaman belajar bersama Setiawan Pujiyono memberikan inspirasi bagi guru untuk terus berinovasi.
"Bersama Pak Setiawan, kami diajak untuk tidak takut mencoba, melakukan refleksi, dan melihat pembelajaran dari perspektif peserta didik. Guru pun perlu terus belajar agar pembelajaran Bahasa Indonesia semakin dekat dengan dunia mereka."
Workshop tersebut menjadi ruang pertemuan antara pengalaman akademik dan praktik pembelajaran di madrasah. Dari diskusi dan refleksi, lahir kesadaran bahwa kelas yang gembira dan asesmen yang bermakna bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan dapat berjalan beriringan untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih berkualitas.
Kehadiran Setiawan Pujiyono juga semakin memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, MGMP, dan madrasah dalam membangun budaya belajar bagi guru. Sebab, ketika guru terus bertumbuh, pembelajaran pun akan terus bergerak maju.
Dari guru yang mau belajar, lahir kelas yang menggembirakan. Dari asesmen yang bermakna, tumbuh peserta didik yang semakin mengenal proses belajarnya. (had).